Selasa, 13 Desember 2011

Mangga GINCU




Mangga Gedong Gincu Ternyata Berasal dari Sumedang.

Mangga GEDONG GINCU, sebuah nama mangga yang sengat populer dikalangan masyarakat pecinta buah mangga. maka tidak asing untuk kita mendengarnya. mangga gincu yang terkenal dengan penampilan yang sangat menawan dan menarik perhatian banyak orang untuk mencicipinya.


Mangga Gincu ternyata didapat dari daerah Sumedang, diantaranya daerah LEBAKSIUH, TAK KENAL MAKA TAK SAYANG. pepatah mengatakan, jalan yang sangat berliku dan jelek, melalui gunung dan hutan, melalui jembatan gantung yang sangat licin jika dilalui ketika musim penghujan. Namun dengan kegigihan dan semangat untuk menikmati suasana alam kampung halaman, saya dan rekan tidak menghiraukan rasa letih dan basah kuyup diguyur hujan.
Tiba di kampung halaman, sebuah hidangan yang sangat klasik mengesankan BUAH MANGGA GEDONG GINCU. Ehm..sangat mempermainkan lidah, manis dengan bodi dan penampilan yang menarik dari Buah GINCU.
Harga yang terkenal tidak ekonomis, maka tak jarang untuk petani yang menghasilkan puluhan juta bahkan ratusan juta dari si mungil GINCU.
Untuk menikmati si mungil, dengan harga yang ekonomis kita hanya perlu melewati perjalanan 1 sd 2 jam saja. Letaknya di DESA LEBAKSIUH Kec. JATIGEDE Kab. Sumedang.

Gotong Royong Desa LEBAKSIUH Sumedang

GOTONG ROYONG

Itulah nama dari sebuah kampung kecil tercinta tempat kelahiran. kebanggaan yang ada pada jiwa ini karena sebuah rasa GOTONG ROYONG.seperti liputan sebuah surat kabar. inilah cuplikannya :
Sudah bertahun-tahun lamanya warga blok Leuwihieum desa Lebaksiuh Kec. Jatigede Kab. Sumedang terisolir karena tidak adanya akses jalan raya menuju desa tersebut, letak desa Lebaksiuh yang jauh dari pusat kota Sumedang mengakibatkan warganya kesulitan dalam melakukan aktifitas ekonomi.

Sehingga warga desa Lebaksiuh yang berbatasan dengan desa Pasirmuncang Kec. Panyingkiran lebih memilih daerah Majalengka dalam melakukan aktifitas perekonomianya. Bahkan untuk menperoleh pelayanan kesehatan warga lebih memilih rumah sakit yang ada di kab. Majalengka walau harus menyusuri jalan setapak dan melintasi sungai.

Belum lama ini ratusan warga desa Pasir muncang dibantu warga desa Lebaksiuh secara swadaya membangun jalan tembus sepanjang 250 meter dengan cara diplester, guna membuka akses jalan desa Lebaksiuh menghubungkan desa Pasirmuncang. Meski tidak lebar, akan tetapi warga desa Lebaksiuh merasa senang, kini warga bisa dengan mudah menjalankan aktifitas perekonomian kepasar ataupun kerumah sakit.

Seperti dialami oleh seorang guru SD Jatiserang, Ade S.Pd rumahnya yang terletak di desa Lebaksiuh, mengaku kesulitan saat berangkat ke sekolah. Bahkan dirinya sering terlambat datang kesekolah, karena jalurnya yang sering ia lewati selalu kebanjiran. Tentunya dengan jalan baru dibangun ini yang melewati dua sungai yakni Cijurai dan Cilutung lebih memudahkanya saat berangkat bekerja dan tidak terlambat lagi.

“Karena itulah, saya sering terlambat datang mengajar. Namun, jika memutar melalui jalur lain, akan memakan waktu yang lama dan tetap terlambat, akhirnya, dengan terpaksa saya menunggu banjir surut dulu. Meski sekarang sudah ada jalan yang diplester, tak menutup kemungkianan, tetapi setidaknya sekarang saya dapat sampai ke tempat mengajar dengan lancar dan tidak becek-becek lagi.” Ungkapnya.

Pembangunan jalan tembus ini sebelumnya sudah melalui hasil musyawarah antara warga desa Lebaksiuh dan Pasirmuncang, bahkan demi hubungan kekeluargaan kedua desa beberapa warga desa Pasirmuncang merelakan tanahnya guna dijadikan jalan tembus tersebut.

“Meksipun mereka warga Sumedang, akan tetapi mereka lebih sering lewat jalan ini, daripada ke jalan lainnya.“ Ungkap salah seorang warga Pasir Muncang.

Sementara itu, kepala Desa Pasir Muncang Momo mengatakan sangat bangga kepada warganya yang telah merelakan sebagaian tanahnya untuk dijadikan sebagai akses jalan. Selama ini warga Lebaksiuh telah lama menjalin pertemanan dengan warga Pasirmuncang bahkan sudah dianggap keluaraga sendiri.

“Mungkin karena jarak ke pusat kota Sumedang yang terlalu jauh, jadinya, mereka memilih ke Majalengka saja. Saya sangat berterimaksih kepada warga saya sendiri atas gotong royong dan keikhlasannya.” Ungkap Momo.

Ditempat terpisah Kepala desa Lebaksiuh, Agus, yang juga ikut membantu mengerjakan plesteran jalan tembus itu mengatakan, sangat bersyukur karena warga desa Pasir muncang telah menganggapnya sebagai saudara sendiri. Sehingga membolehkan kami dan bahkan membantu kami mempermudah akses transportasi warganya.

“Akses jalur walahar ini dibangun diatas tanah milik pribadi warga desa Pasir Muncang atas persetujuan musyawarah. Itu merupakan hadiah bagi warga kami dan kami sangat berterimakasih, akses jalur ini benar-benar dirasakan penting oleh warga kami.” Ungkap Agus. (Erik)